Editor | M.Supadi
UNGARAN TIMUR | MERDEKA1.COM – Banjir kembali merendam permukiman warga RT 03 RW 02 Krajan, Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang,
Kamis (30/4/2026) sekitar pukul 15 .30 WIB. Air meluap dari sungai di kawasan Gang Batak, tepat di sekitar kediaman warga, hingga masuk ke rumah-rumah.
Peristiwa ini bukan yang pertama. Warga menegaskan banjir telah menjadi langganan setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi. Kondisi tersebut diduga kuat dipicu pendangkalan sungai akibat sedimentasi lumpur yang kian parah.
Situasi diperburuk oleh aktivitas galian C di wilayah hulu yang diduga menjadi penyumbang material ke aliran sungai. Akibatnya, kapasitas sungai terus menurun dan tidak mampu menampung debit air saat hujan.
“Setiap hujan turun kami selalu cemas. Sungai sudah dangkal, lumpur menumpuk, air pasti meluap,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Warga menilai hingga kini belum ada langkah nyata dari pemerintah desa maupun instansi terkait. Normalisasi sungai dan perbaikan talud dinilai tidak pernah dilakukan secara serius, meski banjir terus berulang.
Kekecewaan masyarakat semakin memuncak karena persoalan ini dianggap dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan konkret. Mereka mendesak pemerintah daerah turun tangan dan tidak lagi bersikap pasif.
Warga juga menuntut evaluasi tegas terhadap aktivitas galian C yang diduga menjadi salah satu faktor utama mempercepat pendangkalan sungai.
“Kami butuh tindakan, bukan janji. Jangan sampai setiap hujan kami selalu jadi korban,” tegas warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Desa Leyangan maupun pihak terkait mengenai penanganan banjir maupun pengawasan aktivitas galian C.
Warga mendesak pemerintah segera melakukan normalisasi sungai secara menyeluruh,
memperbaiki talud, serta memperketat pengawasan terhadap aktivitas penambangan agar bencana banjir tidak terus berulang di wilayah tersebut.(..)







