KABUPATEN SEMARANG | MERDEKA1.COM – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Semarang menuai sorotan tajam. Menu yang dibagikan kepada siswa dinilai belum memenuhi ekspektasi publik terkait standar kecukupan gizi anak sekolah.
Di SDN 1 Pabelan, Kecamatan Pabelan, siswa dilaporkan menerima satu buah pisang kecil, empat butir telur puyuh untuk kelas 1, 2, dan 3, serta sepotong ubi jalar. Sejumlah orang tua mengaku terkejut dengan komposisi tersebut.
“Kalau disebut makan bergizi, seharusnya ada unsur karbohidrat, protein, sayur, dan buah yang lebih proporsional. Ini terlihat sangat sederhana,” ujar salah satu wali murid.
Sementara itu, di SDN 3 Pringapus, Kecamatan Pringapus, menu yang dibagikan berupa tiga lembar roti tawar, satu sendok abon, serta satu kotak susu kemasan kecil. Kondisi ini memunculkan pertanyaan terkait standar operasional dan pengawasan program di lapangan.
Pihak sekolah menyebut telah melakukan konfirmasi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Berdasarkan penjelasan petugas, terdapat kendala distribusi dari pihak penyedia sehingga satu jenis menu tidak dapat disertakan pada hari tersebut.
“Ada kekurangan dari distributor, dan dijanjikan akan dirapel pada pembagian berikutnya,” ungkap seorang guru.
Namun hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari pimpinan SPPG maupun instansi terkait di Kabupaten Semarang mengenai standar minimal menu MBG dan mekanisme evaluasi terhadap mitra penyedia.
Program MBG pada prinsipnya bertujuan mendukung tumbuh kembang siswa melalui asupan gizi seimbang. Karena itu, konsistensi kualitas, transparansi anggaran, dan pengawasan menjadi kunci agar manfaat program benar-benar dirasakan.
MERDEKA1.COM akan terus memantau perkembangan dan menunggu klarifikasi resmi dari pihak berwenang guna memastikan hak gizi anak-anak terpenuhi secara layak dan berkelanjutan. (Red)






