Reporter : Yogie
Kebumen | Merdeka1.com – Tragedi kembali terjadi di tengah masyarakat. Seorang warga di Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, harus meregang nyawa saat melakukan pekerjaan sederhana di rumahnya sendiri. Nyawa melayang, bukan karena bencana alam, melainkan akibat ancaman kabel listrik yang melintang rendah dan nyaris luput dari perhatian.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Selasa (27 Januari 2026) sore. Korban diketahui bernama Nuji (52), warga Dukuh Pucung, Desa Pucangan. Saat itu, korban tengah memasang rangka baja ringan untuk bagian atap rumahnya. Pekerjaan yang semestinya menjadi bagian dari upaya memperbaiki hunian justru berubah menjadi tragedi yang merenggut nyawa.
Menurut keterangan warga sekitar, saat korban mengangkat rangka baja ringan ke atas, material logam tersebut diduga menyentuh kabel listrik aktif milik PLN yang melintang di dekat rumah. Seketika korban tersengat aliran listrik dan terjatuh. Warga yang melihat kejadian itu langsung panik dan berupaya memberikan pertolongan secepat mungkin.
Korban kemudian dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Kutowinangun. Namun, upaya medis tidak mampu menyelamatkan nyawanya. Pihak rumah sakit menyatakan korban meninggal dunia akibat sengatan listrik.
Pihak kepolisian yang datang ke lokasi menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan kecelakaan murni dan tidak mengandung unsur pidana. Meski demikian, kejadian ini memunculkan pertanyaan serius soal keselamatan lingkungan permukiman, khususnya keberadaan kabel listrik yang terlalu dekat dengan bangunan warga.
“Ini musibah, tetapi juga menjadi peringatan keras. Banyak rumah warga yang jaraknya sangat dekat dengan jaringan listrik, dan ini berpotensi menimbulkan korban jiwa,” ungkap salah satu aparat di lokasi kejadian.
Tragedi ini menambah daftar panjang kecelakaan akibat instalasi listrik yang tidak ramah keselamatan, terutama di wilayah permukiman padat. Masyarakat dinilai masih minim edukasi terkait bahaya bekerja di dekat jaringan listrik aktif, sementara di sisi lain, penataan kabel listrik di lingkungan warga kerap luput dari evaluasi menyeluruh.
Warga setempat berharap ada langkah nyata dari pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun instansi penyedia listrik, untuk menata ulang jalur kabel listrik yang berisiko. Sosialisasi keselamatan kerja di lingkungan rumah tangga juga dinilai mendesak agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa maut bisa datang kapan saja, bahkan saat seseorang tengah berusaha memperbaiki rumahnya sendiri. Tidak ada pembangunan yang sepadan dengan nyawa manusia.






