Laporan |M.Supadi
KAB SEMARANG | MERDEKA.COM – Ditengah derasnya arus digital, minat generasi muda terhadap sejarah justru menemukan wajah baru yang lebih kreatif. Hal ini ditunjukkan oleh delapan mahasiswa Politeknik Negeri Semarang (Polines) yang mengulik sejarah Benteng Fort Willem I sebagai bagian dari tugas mata kuliah Broadcasting.
Berawal dari rasa penasaran yang dipicu media sosial, benteng yang juga dikenal dengan julukan “Benteng Pendem” ini menarik perhatian mereka, baik dari sisi visual maupun nilai historisnya.
Dibangun pada masa kolonial Belanda antara tahun 1834 hingga 1853, benteng ini menjadi simbol pertahanan strategis pada zamannya.
Secara historis, keberadaan benteng ini tak lepas dari dinamika pasca Perang Diponegoro serta kekhawatiran pemerintah kolonial terhadap potensi ancaman, termasuk kemungkinan kembalinya pengaruh Inggris di Pulau Jawa.
Desainnya pun mengadopsi sistem pertahanan modern ala Sébastien Le Prestre de Vauban, yang dikenal dengan konsep benteng berlapis dan taktis.
Ketertarikan tersebut mendorong para mahasiswa-Fathir, Amna, Afifahni, Miftakhul, Aditya, Ahmad, Piter, dan Verrel-untuk menjadikan benteng ini sebagai objek utama produksi film dokumenter.
Saat melakukan eksplorasi langsung di lokasi, mereka tidak hanya disuguhkan panorama bangunan bersejarah, tetapi juga memperoleh penjelasan mendalam dari pengelola mengenai fungsi, arsitektur, dan nilai strategis benteng.
Melalui proses ini, para mahasiswa tidak hanya mengasah keterampilan produksi audiovisual, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian cagar budaya.
Benteng Fort Willem I bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah yang kini kembali dihidupkan melalui perspektif generasi muda.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran sejarah tidak harus selalu terpaku pada buku teks. Dengan pendekatan kreatif dan rasa ingin tahu yang tinggi, mahasiswa mampu menghadirkan kembali kisah masa lalu menjadi lebih hidup, relevan, dan inspiratif bagi masyarakat luas.







