Laporan | Witriyani
SEMARANG |MERDEKA1.COM – Libur panjang Lebaran 2026 membawa berkah bagi sektor pariwisata di Jawa Tengah. Jumlah kunjungan wisatawan tercatat meningkat 5,25 persen dibanding tahun sebelumnya, didorong tren baru “visual tourism” yang mengutamakan pengalaman estetika dan spot menarik untuk dokumentasi.
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah mencatat, total kunjungan wisatawan sejak H-7 atau 13 Maret hingga H+4 Lebaran (25 Maret 2026) mencapai 687.470 kunjungan. Angka ini naik dari periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebanyak 653.178 kunjungan.
Kepala Disbudparekraf Jawa Tengah, Hanung Triyono, menyampaikan bahwa peningkatan tersebut dipantau melalui sembilan destinasi unggulan yang menjadi indikator pergerakan wisata.
Destinasi tersebut meliputi Candi Borobudur, Owabong Purbalingga, Baturraden Banyumas, Guci Tegal, Pantai Menganti, Kota Lama Semarang, Masjid Agung Demak, Makam Sunan Kalijaga, serta Candi Prambanan.
Dari seluruh destinasi tersebut, Kota Lama Semarang mencatat kunjungan tertinggi dengan 222.856 wisatawan. Disusul Masjid Agung Demak sebanyak 124.363 pengunjung, dan Candi Prambanan dengan 94.858 wisatawan.
Menurut Hanung, tren wisata saat ini mengalami pergeseran signifikan. Wisatawan mulai meninggalkan dominasi wisata alam dan beralih ke destinasi berbasis kawasan kota serta ikon budaya yang menawarkan pengalaman visual kuat.
Fenomena ini dikenal sebagai “visual tourism”, di mana daya tarik estetika dan keunikan spot foto menjadi faktor utama, terutama bagi generasi muda yang aktif di media sosial.
Selain itu, faktor cuaca turut memengaruhi pola kunjungan. Kondisi kurang bersahabat di sejumlah kawasan pegunungan membuat wisatawan memilih destinasi yang lebih aman, nyaman, dan mudah diakses.
Data juga menunjukkan lonjakan kunjungan mulai terjadi sejak H-1 Lebaran dan mencapai puncaknya pada H+2. Hal ini menegaskan bahwa periode pascalebaran masih menjadi waktu favorit masyarakat untuk berwisata.
Ke depan, Disbudparekraf Jawa Tengah menilai pengelola destinasi perlu beradaptasi dengan tren tersebut, khususnya dengan memperkuat konsep pengalaman (experience) dan daya tarik visual guna menarik minat wisatawan.
“Penguatan konsep experience dan visual menjadi kunci untuk menarik wisatawan, khususnya generasi muda,” pungkas Hanung.







