SEMARANG|MERDEKA1.COM – Menjelang puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jawa Tengah menggelar ziarah ke makam wartawan senior almarhum Suharyono Kartowiyono atau yang akrab disapa Pak Haryono KO, Senin (2/2/2026) pagi.
Ziarah dilaksanakan di TPU Bergota Krakal, Jalan Kyai Saleh No.57, Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Kegiatan dipimpin langsung Ketua PWI Jawa Tengah Setiawan Hendra Kelana, didampingi jajaran pengurus dan anggota PWI.
Dalam sambutannya, Setiawan menegaskan bahwa ziarah tersebut bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan momentum refleksi bagi insan pers untuk meneladani nilai integritas, konsistensi, dan dedikasi almarhum sepanjang hayatnya.
“Meski terdapat perbedaan latar belakang dan pandangan, nilai kemanusiaan serta profesionalisme Pak Haryono melampaui sekat-sekat tersebut. Hingga akhir hayatnya, beliau konsisten menjaga iman dan integritas,” ujar Setiawan.
Menurutnya, perjalanan hidup Pak Haryono KO merupakan pelajaran penting bagi wartawan, khususnya generasi muda, tentang kesetiaan pada profesi dan etika jurnalistik. “Kematian adalah pengingat terbaik, dan hidup Pak Haryono memberi teladan luar biasa tentang makna pengabdian,” imbuhnya.
Pak Haryono KO lahir di Ponorogo pada 3 April 1943 dan wafat pada 6 Mei 2025 dalam usia 82 tahun. Sepanjang kariernya, ia mengabdi sebagai wartawan di Harian Angkatan Bersenjata dan Harian Kartika, dikenal sebagai sosok yang gigih, disiplin, dan berintegritas.
Salah satu liputan bersejarahnya adalah tragedi letusan Kawah Sinila, Dieng, pada tahun 1979. Di kalangan wartawan muda, almarhum dikenal sebagai figur kebapakan yang tak lelah membimbing dan menanamkan nilai etika jurnalistik.
Selain di bidang pers, dedikasinya juga tercatat di dunia olahraga. Ia tercatat sepuluh kali mengikuti Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas), baik sebagai atlet maupun manajer. Atas pengabdian tersebut, SIWO PWI Jawa Tengah menganugerahkan Lifetime Achievement Award pada tahun 2010.
Ziarah ini menjadi pengingat bahwa warisan terbesar seorang jurnalis bukanlah harta, melainkan rekam jejak yang bersih, integritas yang terjaga, serta manfaat nyata bagi sesama dan profesi pers.(..)






