Laporan | Witriyani
SEMARANG | MERDEKA1.COM– Warga RW 04 Silayur Lawas Duwet, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah menggelar tradisi Sedekah Bumi dan ruwatan sebagai bentuk ikhtiar memohon keselamatan bagi masyarakat, khususnya para pengguna jalan di kawasan tanjakan Silayur, Sabtu (16/5/2026) sore.
Tradisi yang sempat lama tidak digelar itu kembali dilaksanakan menyusul sering terjadinya kecelakaan di jalur tanjakan Silayur yang belakangan viral dengan sebutan “tanjakan tengkorak”
Kegiatan diawali dengan doa bersama dan tahlil yang diikuti warga setempat. Sejumlah tumpeng, aneka buah, hingga jajanan anak-anak disusun membentuk gunungan di tengah warga yang khusyuk berdoa memohon keselamatan dan keberkahan.
Masyarakat meyakini para wali di tanah Jawa, khususnya Syekh Subakir yang dimakamkan di Gunung Tidar, memiliki jasa besar tidak hanya dalam penyebaran agama Islam, tetapi juga dalam menjaga keselamatan dan kemakmuran masyarakat.
Ketua RW 04 Silayur Lawas Duwet, Arsondi mengatakan tradisi ruwatan tersebut telah dilakukan sejak era Mbah Kromo pada tahun 1960-an.
“Ruwatan dilakukan pada bulan Apit atau Dzulqa’dah dalam penanggalan Hijriyah. Tradisi ini dimulai sejak zaman Mbah Kromo yang menjabat Kepala Dukuh Silayur hingga tahun 1975,” ujarnya usai kegiatan sedekah bumi.
Menurutnya, setelah Mbah Kromo wafat, tradisi diteruskan oleh Mbah Nasir hingga tahun 1980. Namun dalam beberapa tahun terakhir kegiatan tersebut sempat vakum sebelum akhirnya kembali digelar tahun ini.
Selain sedekah bumi, warga juga mengadakan pagelaran wayang kulit pada malam harinya dengan lakon “Wahyu Ketentreman” sebagai simbol harapan terciptanya ketenteraman dan keselamatan bagi masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Camat Ngaliyan, Soegiman mengapresiasi inisiatif warga yang kembali menghidupkan tradisi budaya leluhur tersebut.
“Terima kasih kepada warga yang telah mengadakan ruwatan Silayur. Kami sangat antusias dan menyambut positif upaya masyarakat dalam nguri-uri budaya,” katanya.
Ia berharap tradisi ruwatan dapat menjadi awal yang baik dalam menjaga warisan budaya sekaligus membawa keselamatan bagi masyarakat dan para pengguna jalan di kawasan Silayur.
“Harapannya bisa memberikan keselamatan secara keseluruhan kepada masyarakat pengguna jalan, khususnya warga Silayur,” pungkasnya. (*)







