Laporan | Mulyono
DEMAK | MERDEKA1.COM – Tradisi tahunan Sedekah Bumi atau Apitan di Desa Batursari, Selasa malam (12/5/2026), digelar secara sederhana di Gedung Balai Desa Batursari. Kegiatan yang biasanya menjadi momentum kebersamaan warga itu kali ini hanya diikuti jajaran perangkat desa dengan agenda doa bersama dan makan kembul.
Pelaksanaan yang berlangsung terbatas tersebut memunculkan harapan dan aspirasi dari masyarakat agar tradisi budaya tahunan itu ke depan dapat digelar lebih meriah serta melibatkan warga secara luas.
Sejumlah warga menilai Sedekah Bumi bukan sekadar acara seremonial desa, melainkan warisan budaya yang seharusnya menjadi ruang silaturahmi dan rasa syukur bersama seluruh masyarakat.
“Harapannya jangan hanya perangkat desa saja yang ikut. Warga juga ingin merasakan kebersamaan dalam tradisi Sedekah Bumi seperti desa-desa lain yang lebih ramai dan terbuka,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Warga membandingkan pelaksanaan Apitan di Batursari dengan sejumlah desa lain yang rutin menghadirkan kirab budaya, pentas kesenian tradisional, hingga hiburan rakyat yang mampu menghidupkan suasana sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Selain berharap adanya hiburan dan partisipasi publik, masyarakat juga meminta pemerintah desa lebih terbuka dalam menyampaikan konsep dan pelaksanaan kegiatan tahunan tersebut agar tidak menimbulkan kesan tertutup.
Beberapa harapan yang disampaikan warga di antaranya melibatkan perwakilan masyarakat dari setiap dusun atau RT/RW, menghadirkan kegiatan budaya khas Sedekah Bumi, serta membangun komunikasi yang lebih transparan kepada masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Desa Batursari belum memberikan keterangan resmi terkait alasan pelaksanaan Sedekah Bumi yang digelar sederhana dan terbatas di lingkungan perangkat desa.







