Oleh: Mulyadi Tanjung
PATIMUAN | MERDEKA1.COM – Pilkades Patimuan 2027 memang masih satu tahun lagi, namun dinamika politik desa mulai terasa menghangat. Sejumlah nama mulai diperbincangkan, salah satunya BK Atilep Rahmat, yang lebih dikenal masyarakat dengan sapaan Ujang Beka. Kesediaannya untuk kembali tampil bukan sekadar ambisi sesaat, melainkan kelanjutan dari perjalanan panjang pengabdian yang sempat tertunda.
Kematangan dari Pengalaman dan Rivalitas
Ujang Beka bukan figur yang muncul tiba-tiba menjelang kontestasi. Rekam jejaknya sebagai Ketua RW 10 Dusun Patimuan selama dua periode kepemimpinan kepala desa berbeda—mulai era Icuk Sudiarto hingga Mutaqin—menjadi bukti konsistensi dan daya tahannya dalam dinamika sosial-politik desa.
Ia bahkan tercatat pernah menjadi rival politik dalam Pilkades 2013 dan 2019. Dalam konteks politik desa, konsistensi seperti ini tergolong langka. Rivalitas tersebut tidak menjelma permusuhan, melainkan proses pembelajaran yang membentuk kedewasaan politik serta pemahaman mendalam terhadap persoalan riil masyarakat Patimuan.
Integritas di Balik Pengunduran Diri
Keputusan Ujang Beka mengundurkan diri dari jabatan Ketua RW pada 19 Januari 2026 menjadi sorotan tersendiri. Di saat sebagian pihak memilih mempertahankan posisi hingga akhir masa jabatan, ia justru memilih menepi.
Langkah ini dapat dibaca sebagai sikap etis—memberi ruang agar dapat bergerak lebih bebas bersama masyarakat tanpa beban struktural birokrasi. Tidak menutup kemungkinan pula, keputusan tersebut merupakan bentuk sikap moral terhadap nilai-nilai yang menurutnya harus tetap dijaga.
Pemimpin yang Hadir di Tengah Rakyat
Sisi kepemimpinan partisipatif Ujang Beka kembali terlihat melalui Open Turnamen Bola Volly Putri “Bambu Jajar Cup 1” di Dusun Kalenpring. Bertindak sebagai Ketua Panitia, ia menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar posisi, melainkan kemampuan menggerakkan masyarakat, menyatukan pemuda, sekaligus mendorong roda ekonomi desa lewat kegiatan olahraga.
Pemilihan Dusun Kalenpring sebagai lokasi kegiatan juga menyiratkan pesan kuat: Ujang Beka tidak membatasi diri pada RW atau dusun tertentu. Ia memosisikan diri sebagai figur yang ingin merangkul seluruh elemen Desa Patimuan.
Kesimpulan
Melalui langkah-langkahnya, Ujang Beka tengah mengirim pesan yang tegas kepada publik: ia telah ditempa oleh pengalaman, memahami birokrasi akar rumput, dan tetap memiliki energi untuk menyatukan masyarakat lintas wilayah.
Pilkades Patimuan 2027 kelak bukan sekadar soal memilih kepala desa, tetapi tentang memberi kesempatan kepada figur yang telah matang oleh proses, setia pada garis pengabdian, dan tumbuh bersama denyut nadi masyarakat Patimuan. (..)






