Laporan | Wiitriyani
SEMARANG| MERDEKA1.COM — Perayaan Hari Ulang Tahun ke-160 Kelenteng Ling Hok Bio berlangsung semarak pada Minggu (12/4/2026).Momentum sakral ini dipusatkan di kawasan Pecinan Semarang dengan menggelar Kirab Budaya Ho Tek Tjing Shin yang melibatkan peserta lintas kota dan provinsi di Indonesia.
Kirab budaya tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai spiritual dan sejarah kelenteng, ditandai dengan prosesi penyerahan Kim Sin dari masing-masing kelenteng peserta. Tradisi ini tidak hanya sarat makna religius, tetapi juga mencerminkan kuatnya jejaring budaya Tionghoa di Nusantara yang terus hidup dan berkembang.
Salah satu peserta kirab dari Yayasan Hoo Hok Bio, Shindu Aji, mengatakan bahwa perayaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya multikultural di Indonesia.
“Kirab ini menjadi ruang perjumpaan lintas etnis, seni, dan tradisi. Kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa, dan tradisi seperti ini perlu terus dirawat agar generasi muda mengenal akar budayanya,” ujarnya.
Kirab dimulai dan berakhir di kawasan Gang Pinggir, dengan rute sekitar enam kilometer.
Sepanjang perjalanan, masyarakat disuguhkan beragam atraksi seni tradisional seperti barongsai, liong, serta iringan musik khas yang memperkuat nuansa kebhinekaan.
Sementara itu, tokoh masyarakat Semarang, Budi S, menilai kegiatan ini memiliki nilai edukasi sekaligus advokasi sosial bagi masyarakat luas.
“Kirab budaya ini bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Ini menjadi sarana edukasi tentang pentingnya toleransi, keberagaman, dan saling menghormati antarumat beragama maupun etnis. Dukungan dari pemerintah dan masyarakat sangat penting agar tradisi ini tidak tergerus zaman,” ungkapnya.
Perayaan HUT ke-160 Kelenteng Ling Hok Bio diharapkan tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga memperkuat identitas Semarang sebagai kota inklusif yang menjunjung tinggi harmoni dalam keberagaman.






