Reporter | Witriyani
SALATIGA|MERDEKA1.COM – Menyatukan budaya dan sains menjadi keunikan tersendiri, Salatiga Eco Park (SAE) hadir sebagai destinasi wisata edukasi baru yang memperkaya wajah pariwisata Kota Salatiga. Kota yang dikenal sebagai kota pelajar dengan tingkat toleransi tinggi—bahkan kerap disebut miniatur Indonesia—kini semakin semarak dengan kehadiran kawasan wisata berbasis eco green tersebut.
Terhampar di atas lahan seluas sekitar 5 hektare di kawasan Salib Putih, SAE mengusung konsep wisata edukasi yang memadukan modernisasi ilmu pengetahuan dengan kearifan budaya leluhur bangsa Indonesia yang perlahan mulai tergerus arus zaman. Konsep ini menjadi daya tarik utama SAE sebagai wahana pembelajaran sekaligus rekreasi.
Salatiga Eco Park membagi area edukasinya ke dalam tiga bagian utama, yakni edukasi profesi, pojok sains, dan art work. Pada edukasi profesi, pengunjung—khususnya anak-anak—dapat menjumpai berbagai gubug tematik yang menggambarkan profesi masa lampau.
Pemilik Salatiga Eco Park, Roy Wibisono, menjelaskan bahwa konsep edukasi yang diusung SAE menekankan pada pengalaman praktik langsung.
“Edukasi yang kami hadirkan adalah edukasi berbasis pengalaman. Anak-anak tidak hanya melihat, tetapi juga mempraktikkan langsung, sehingga mereka punya gambaran nyata tentang profesi zaman dahulu maupun cara kerja sebuah alat,” ujar Roy.
Di gubug batik, misalnya, anak-anak dapat belajar menggunakan canting. Di gubug pande besi, mereka diperkenalkan pada proses pembentukan keris oleh seorang empu. Sementara di pojok sains, pengunjung diajak memahami bagaimana rangkaian listrik bekerja hingga sebuah lampu pijar bisa menyala—semuanya melalui praktik langsung.

Sementara itu, pada bagian art work, pengunjung disuguhkan berbagai benda dan teknologi modern pada masanya di era lampau, seperti telepon kuno, layar tancap, hingga dokumentasi foto-foto jadul yang membangkitkan nostalgia.
“Kami ingin setiap pengunjung pulang membawa ilmu. Jadi kunjungan ke SAE tidak hanya sekadar rekreasi, tapi juga memberi manfaat edukatif,” lanjut Roy.
Uniknya, di akhir perjalanan wisata, setiap pengunjung akan mendapatkan suvenir ramah lingkungan berupa bibit tanaman cabai. Bibit tersebut ditanam dalam gelas plastik bekas minuman yang sebelumnya digunakan pengunjung.
Langkah ini sejalan dengan prinsip eco green yang diusung SAE, yakni mengurangi sampah plastik sekaligus menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan kelestarian bumi sejak dini.
Dengan konsep wisata edukasi yang menyentuh aspek budaya, sains, dan kepedulian lingkungan, Salatiga Eco Park menegaskan diri sebagai salah satu destinasi wisata edukasi terlengkap dan berkarakter di Indonesia.






